ACETYLCYSTEINE

Acetylcysteine atau asetilsistein adalah obat yang digunakan untuk mengencerkan dahak pada beberapa kondisi, seperti batuk, asma, cystic fibrosis, atau PPOK. Selain itu, obat ini juga digunakan untuk mengobati keracunan paracetamol.



Acetylcysteine memiliki beberapa sediaan, yaitu tablet, kapsul, granul, sirup kering, injeksi, dan larutan inhalasi. Efek terapi obat Acetylcysteine pada penatalaksanaan batuk adalah sebagai mukolitik atau pengencer dahak dengan memecah ikatan disulfida pada mukoprotein sehingga mengurangi viskositas dahak dan lebih mudah dikeluarkan melalui batuk. Perlu dicatat, obat ini tidak cocok diberikan pada batuk kering. Sediaan lain acetylcysteine juga digunakan sebagai antidot untuk overdosis/keracunan paracetamol yang bekerja sebagai hepatoprotektan dengan cara memperbanyak glutation pada hati, untuk melembabkan mata pada sindrom mata kering, sebagai antioksidan yang dapat mengurangi gejala penyakit yang disebabkan oleh peningkatan radikal bebas (Reactive Oxygen Species/ROS), terapi tambahan pada pasien cedera otak ringan-sedang dan stroke iskemik, serta mengurangi gejala berbagai penyakit neurodegeneratif dan neuropsikiatri.

Dosis dan Cara Menggunakan Acetylcysteine dengan Benar

Acetylcysteine merupakan obat keras sehingga perlu menggunakan resep dokter. Dokter akan memberikan dosis dan menentukan lama pengobatan sesuai kondisi dan usia pasien. Jangan menambahkan atau mengurangi dosis tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter. Berikut adalah pembagian dosis acetylcysteine berdasarkan bentuk obatnya:

 Bentuk tablet effervescent, kapsul, sirup kering, dan granul. 

Kondisi : Sebagai pengencer dahak/obat batuk

  • Anak-anak usia 2–6 tahun: 100 mg, 2–4 kali sehari.
  • Anak-anak usia >6 tahun: 200 mg, 2–3 kali sehari.
  • Dewasa: 200 mg 3 kali sehari, atau 600 mg (untuk sediaan effervescent) sekali sehari. Dosis maksimal 600 mg per hari.

Acetylcysteine sebaiknya dikonsumsi dengan makanan atau sesudah makan. Minum kapsul acetylcysteine dengan air putih. Jangan mengunyah atau menghancurkan kapsul karena dapat meningkatkan risiko terjadinya efek samping. Untuk acetylcysteine tablet effevescent, larutkan terlebih dahulu kedalam segelas air sebelum dikonsumsi. Obat ini harus diminum tidak lebih dari 2 jam setelah dilarutkan. Untuk acetylcysteine dalam bentuk sirup kering, kocok botol terlebih dahulu sebelum sirup dikonsumsi. Larutkan isi botol sirup kering menggunakan air matang dengan takaran yang sesuai petunjuk pada label, lalu kocok sampai merata. Untuk acetylcysteine bentuk granul, larutkan 1 sachet granul acetylcysteine ke dalam air putih sesuai dengan takaran yang dianjurkan pada label. Aduk larutan sampai merata sebelum diminum. Usahakan untuk mengonsumsi acetylcysteine pada jam yang sama setiap harinya, agar efek pengobatan maksimal. Bila lupa mengonsumsi acetylcysteine, segera konsumsi jika jadwal berikutnya belum terlalu dekat. Jika sudah dekat, abaikan dan jangan menggandakan dosis.

Kondisi: Keracunan paracetamol

 Dewasa: Untuk mengobati keracunan paracetamol, bentuk obat yang digunakan adalah tablet effervescent dengan dosis awal 140 mg/kgBB, diikuti 17 kali dosis rumatan sebanyak 70 mg/kgBB, diberikan tiap 4 jam.

Untuk mengobati keracunan paracetamol, pemberian acetylcysteine harus diberikan di rumah sakit dan di bawah pengawasan dokter. Hal ini karena penderita keracunan paracetamol perlu mendapat pemantauan ketat serta pemeriksaan kadar paracetamol dalam darah, uji fungsi hati, dan tes darah lengkap secara berkala.


 Bentuk larutan inhalasi

Kondisi: Sebagai pengencer dahak/obat batuk

 Dewasa: Sebagai larutan 10%, 6–10 ml, 3–4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 2–20 ml, setiap 2–6 jam sesuai kebutuhan. Sebagai larutan 20%, 3–5 ml, 3–4 kali sehari. Dosis dapat ditingkatkan menjadi 1–10 ml, setiap 2–6 jam atau sesuai kebutuhan. Acetylcysteine larutan inhalasi digunakan dengan cara dihirup lewat mulut menggunakan alat nebulizer.


 Bentuk injeksi atau sediaan suntik

Acetylcysteine juga memiliki bentuk sediaan suntik 100mg/ml dan 200mg/ml. Khusus untuk bentuk sediaan suntik, obat akan diberikan langsung oleh dokter atau petugas medis di bawah pengawasan dokter. Dokter akan menyuntikkan acetylcysteine sesuai kondisi pasien.


Acetylcysteine untuk ibu hamil dan menyusui

Kategori B: Studi pada binatang percobaan tidak memperlihatkan adanya risiko terhadap janin, tetapi belum ada studi terkontrol pada wanita hamil. Acetylcysteine belum diketahui apakah dapat terserap ke dalam ASI atau tidak. Bila Anda sedang menyusui, jangan menggunakan obat ini tanpa berkonsultasi dulu dengan dokter.

Cara Penyimpanan

Simpan acetylcysteine pada suhu ruangan dan di dalam wadah tertutup untuk menghindari paparan sinar matahari langsung. Jauhkan obat dari jangkauan anak-anak.

  • Kapsul dan cairan yang belum dibuka: 20-25 derajat Celsius.
  • Cairan inhalasi: setelah terpapar udara, simpan pada suhu 2-8 derajat Celsius dan gunakan dalam 96 jam.


Kontraindikasi

Bubuk oral untuk larutan dan tablet effervescent tidak boleh diberikan kepada anak usia di bawah 2 tahun.

Peringatan Sebelum Menggunakan Acetylcysteine

  • Acetylcysteine harus digunakan sesuai resep dokter. Berikut ini adalah hal-hal yang perlu Anda perhatikan sebelum menggunakan acetylcysteine:
  • Jangan menggunakan Acetylcysteine jika Anda alergi terhadap obat ini. Selalu beri tahu dokter tentang riwayat alergi yang Anda miliki.
  • Beri tahu dokter jika Anda pernah atau sedang menderita penyakit ginjal, asma, sakit maag, tukak lambung, varises esofagus, tekanan darah tinggi (hipertensi), gagal jantung, atau sedang menjalani diet rendah garam.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang mengonsumsi obat, suplemen, atau produk herbal tertentu.
  • Beri tahu dokter jika Anda sedang hamil, menyusui, atau merencanakan kehamilan.
  • Segera ke dokter jika muncul reaksi alergi obat, efek samping yang serius, atau overdosis setelah menggunakan acetylcysteine.


Efek Samping dan Bahaya Acetylcysteine

Efek samping yang mungkin timbul setelah menggunakan acetylcysteine adalah:

  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Pilek
  • Sariawan
  • Demam

Lakukan pemeriksaan ke dokter jika efek samping di atas tidak kunjung mereda. Segera ke dokter jika muncul reaksi alergi obat atau muncul efek samping yang lebih serius, seperti:

  • Batuk berdarah atau muntah berdarah
  • Nyeri dada atau sulit bernapas
  • Sakit perut bagian atas yang bertambah parah
  • Muntah yang terus-menerus dan semakin berat
  • Kehilangan nafsu makan
  • Urine berwarna gelap
  • Penyakit kuning
  • Interaksi Acetylcysteine dengan Obat Lain

Ada beberapa efek interaksi obat yang dapat terjadi jika acetylcysteine digunakan bersama obat-obatan lain, di antaranya:

  • Peningkatan risiko terjadinya penumpukan dahak jika digunakan dengan obat antitusif, seperti codeine
  • Penurunan efektivitas obat acetylcysteine jika digunakan bersama dengan arang aktif
  • Peningkatan efek nitrogliserin dalam melebarkan pembuluh darah (vasodilator)
  • Penurunan efektivitas obat antibiotik


Dibuat oleh : apt. Nadia, S.Farm.

Ditinjau oleh : drg. Sutanti.